Anggota DPR RI: Diskanla Jangan Jadi Penonton Soal Anjloknya Harga Ikan

oleh -228 views

Foto: Anggota Komisi X DPR RI, Djohar Arifin Husin, Ketika Mendengar Keluhan Nelayan Terkait Harga Ikan Yang Anjlok, Akibat Isu Bangkai Babi.


Langkat, Rakyatjelata.com

Terkait dampak pembuangan bangkai hewan ternak babi di sungai dan mengalir kelaut, diwilayah perairan Provinsi Sumatera Utara, terkhusus di Kabupaten Langkat, menjadi momok menakutkan bagi kalangan para nelayan.

Terlebih lagi soal harga ikan yang menurun yang dirasakan kaum nelayan, hingga ke agen penampungan, yang sulit memasarkan ikan dari nelayan.

Harga ikan turun draktis bahkan sempat, dikalangan agen penampungan ikan maupun pedagang, nyaris tidak laku, ketika mereka menjualkan ikan – ikannya, dikarena, animo konsumen termakan isu, bahwa ikan tersebut memakan bangkai ternak babi yang terserang Virus Hog Cholera.

Terkait hal itu, Anggota Komisi X DPR RI Prof. Dr. Ir. Djohar Arifin Husin, yang merupakan putra asli di Kecamatan Tanjung Pura, seusai acara kegiatan sosilisasi 4 pilar di Kabupaten Langkat, pada Sabtu (30/11/2019) kemarin, menyempatkan diri, datang ke beberapa tempat nelayan di Langkat, salah satunya di Nelayan Kecamatan Tanjung Pura.

Di lokasi Nelayan di Dusun Alur Kapal Desa Pematang Cengal Kecamatan Tanjung Pura, Langkat, para nelayan mengeluhkan nasib mereka soal harga ikan yang turun (anjlok) dalam per kilogramnya.

Kepada anggota Komisi X DPR RI, para nelayan mencerita panjang lebar soal ekonomi mereka yang terpuruk, gegara dampak dari bangkai babi yang dibuang ke sungai dan ke laut.

Menurut Ismail dan Abdul Wahab, Nelayan di Dusun Alur Kapal Desa Pematang Cengal Kecamatan Tanjung Pura, Langkat, kepada
rakyatjelata.com, mengatakan, gegara pembuangan bangkai babi itu, harga ikan yang kami jual anjlok.

Misalnya, ikan gebung kuring besar, yang biasa kami jual seharga Rp.35.000 per kilogran turun menjadi 25.000 per kilogram nya.

Begitu juga ikan koli, yang bisa kami jual Rp.28.000 per kilogram, hanya tinggal Rp.20.000 per kilogram nya, dan jenis lainnya, dan penurunan ikan itu, rata – rata turun Rp.10.000 dalam per kilogram nya.

Bahkan sewaktu dalam dua minggu lalu itu, diawal adanya pembuangan bangkai babi, ikan kami tidak laku, karena agen tidak mau merima ikan kami, di karenakan, ikan yang di bawa agen ke Kota Medan dan lainnya tidak ada yang mau menerima, dikarenakan masyarakat sempat mogak untuk membeli ikan.

“Kami berharap, pemerintah serius dalam membantu kami ini nelayan. Penurunan harga itu sangat mengganggu ekonomi kami,” ungkapnya Ismail dan Abdul Wahab, seraya mengatakan, harga jual ikan yang kami jual, tidak sesuai dengan biaya oprasional ketika kami melaut mencari ikan.

Secara terpisah, anggota Komisi X DPR RI Prof. Dr. Ir. Djohar Arifin Husin, kepada rakyatjelata.com, mengatakan, pemerintah harus tanggap dan serius dalam kesusahan yang dialami nelayan di Sumut, termasuk di Kabupaten Langkat, terkait isu pembuangan bangkai babi ke sungai dan ke laut.

“Saya tidak menyangka, efek dari pembuangan bangkai babi begitu parah dampaknya bagi kaum nelayan disini, dari bisnis perikanan mereka.

Ratusan ikan mereka tidak laku, dan dibayar murah, padahal mereka sudah susah mencari ikan, namun ketika dijual tidak laku, dan kini harganya masih anjlok dari penjualan ikan mereka sebelumnya,” sebut Djohar Arifin.

Orang orang tidak mau makan ikan dikarenakan isu bangkai babi yang di buang kesungai hingga kelaut.

Bangkai babi yang di buang kesungai ini merusak lingkungan, dimana sungai ini, tempat mereka memamfaatkan air sungai, katanya.

“Para nelayan dan masyarakat di pinggiran sungai ini, telah lama menggunakan sungai itu sebagar sumber kehidupan mereka, baik untuk air minum maupun untuk mandi dan lainnya.

Utuk itu, pemerintah harus melakukan tindakan tegas. Tindakan hukum bagi orang yang menbuang bangkai babi ke sungai,” ungkap Djohar Arifin.

Pemerintah juga harus membantu, bagi peternak babi, yang mana ternak mereka banyak yang mati, yakni, pemerintah harus membantu ikut membantu penguburan bangkai babi tersebut.

Mungkin mereka peternak babi itu tidak memiliki lahan untuk menguburkan bangkai babinya, sehingga mereka membuang bangkai babi itu ke sungai.

Selain itu, sambung Djohar lagi, pemerintah juga harus membantu peternak babi untuk melakukan vaksinasi terhadap ternak yang masih hidup, agar ternak mereka tidak terkena virus.

Kemudian untuk Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla), serta intansi terkaitnya, jangan sekedar menjadi penonton, soal harga ikan nelayan yang anjlok berkepanjangan ini.

“Bagaimana nelayan kita ini tidak menderita kepanjangan. Harga ikan saat ini cukup parah, dan tidak mencukupi untuk biaya mereka sendiri melaut, seperi membeli es, membeli minyak bensin atau solar dan biaya kebutuhan kelaut lainya,” bebernya Djohar Arifin.(reza)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *