Air Mata Dan Darah di Waduk Sepat

oleh -1.590 views

Surabaya, Rakyatjelata – Hari kamis, 23 Mei 2019, Pengadilan Negeri Surabaya akhirnya menjatuhkan vonis 2,5 bulan atau 75 hari. Jika dihitung sejak penahanan di kejaksaan, hari ini (Sabtu, 25 Mei 2019) sudah memasuki hari ke 76 dalam masa penahanan. Artinya, hari ini juga, seharusnya Dian dan Pak Darno dikeluarkan dari Rumah Tahanan Klas I Medaeng, karena sudah menjalani penahanan sejak 11 Maret 2019 kemarin.

Tetapi ketika Tim Advokasi Waduk Sepat bersama keluarga dan warga kampung Sepat mendatangi Rutan Medaeng untuk meminta pelepasan Dian dan Pak Darno, Pihak rutan bersikukuh untuk tidak melepaskan Dian dan Pak Darno. Alasannya yakni tidak ada surat eksekusi/ berita acara (BA 17) untuk mengeluarkan Dian dan Pak Darno. Sementara berita acara ini ada dalam kewenangan Jaksa, dan Jaksa juga sama bersikukuh tidak mau membuatkan berita acara, dengan alasan karena mengajukan banding.

Seharusnya, terdakwa harus dikeluarkan dari tahanan demi hukum, meskipun ada upaya banding dari pihak Jaksa. Dalam upaya banding, Rutan atau Kejaksaan Tinggi sudah tidak mempunyai hak untuk melakukan penahanan. Pihak yang bisa melakukan penahanan adalah Pengadilan Tinggi. Sementara dalam kasus Dian dan pak Darno ini, sampai sekarang tidak ada perintah Pengadilan Tinggi untuk melakukan penahanan.

Apabila jaksa penuntut umum banding, maka menurut pasal 238 ayat (2) KUHAP, pihak yang mempunyai kewenangan melakukan penahanan adalah Pengadilan Tinggi. Namun hingga kini tidak ada penetapan penahanan dari Pengadilan Tinggi Jawa Timur, sehingga penahanan terhadap Pak Darno dan Dian Purnomo sejak tanggal 25 Mei 2019 adalah tidak sah dan merupakan perampasan kemerdekaan atau pelanggaran HAM

Jadi begitulah kawan, permainan beserta keruwetannya hukum di Indonesia ini. Setiap kepala penegak hukum dan pejabat bisa memberikan tafsir yang berbeda. Dan sialnya, dalam tafsirnya selalu tidak pernah berpihak pada keadilan yang diupayakan oleh masyarakat kelas bawah yang memperjuangkan haknya.

Jika kawan-kawan bertanya ini ada apa? pertanyaan kalian sama dengan kita, ini kenapa hukum tidak pernah berpihak pada masyarakat kelas bawah yang memperjuangkan haknya dan melindungi Lingkungannya. (Red)